RESENSI NOVEL PULANG

Tuesday, December 15, 2015


1.      Identitas Buku
Judul             : Pulang
Pengarang     : Tere Liye
Penerbit         : Republika
Halaman        : 400 Halaman
Tahun Terbit : 2015
ISBN             : 9786020822129



2.      Sinopsis
Bujang anak talang di lereng Bukit Barisan, yang telah menyelamatkan Tauke dan para pemuda yang saat itu tengah berburu babi hutan. Babi dengan ukuran raksasa, babi paling besar di hutan itu. Bujang menghadapi babi hutan itu diusianya yang ke-15 tahun. Sejak saat itu, Bujang tak pernah lagi mengenal rasa takut.
Bujang telah sampai di Kota Provinsi,menjadi anak angkat Tauke. Orang pertama yang menjadi sahabat Bujang adalah Basyir, umurnya 16 tahun, setahun lebih tua dari Bujang. Zaman itu, Tauke hanyalah salah satu penguasa di Kota Provinsi, benteng rumahnya dekat dari pelabuhan, wilayah kekuasaan paling besar Keluarga Tong selama berpuluh tahun. Sumber penghasilan sebenarnya adalah penyelundupan. Melakukan ekspor impor berbagai macam barang ke luar negeri tanpa melewati kantor pajak. Dalam sebuah perayaan tahunan, Tauke Besar mengumumkan bahwa mereka akan segera pindah ke Ibu Kota.
Bertahun tahun Bujang menjadi anak angkat Tauke, telah banyak yang Bujang pelajari, baik ilmu bela diri maupun ilmu pengetahuan.Ia mampu memperoleh 2 pendidikan master sekaligus. Saat semua kebahagian dan pencapaian telah ia raih, perlahan – lahan orang yang amat di cintai Bujang pergi meninggalkannya. Mamak terlebih dulu pergi meninggalkan dunia ini, di susul Bapak beberapa tahun setelahnya. Tepat saat adzan subuh berkumandang.
***
Hari itu bujang harus terbang ke Hong Kong untuk mendatangi perayaan ulang tahun Master Dragon, ialah kepala seluruh keluarga. Namun bukan itu tujuan utamanya, Bujang memiliki tujuan lain. Setelah jamuan makan selesai, Bujang langsung mengutarakan niatnya datang ke acara Master Dragon. Keluarga Lin di Makau telah mencuri teknologi pemindai yang telah Keluarga Tong kembangkan selama 5 tahun terakhir. Tak banyak yang diharapkan Bujang, Bujang hanya ingin Master Dragon bersikap netral. Maka keluarga yang lain pun tak akan berani ikut campur. Rencana Bujang berhasil, Master Dragon telah membuat keputusan.
Pagi itu Bujang mendapat undangan resmi dari keluarga Lin, gedung kasino lantai 40 di Grand Lisabon. Bujang mulai mengumpulkan tim terbaiknya. Saat Bujang menemui Tuan Lin, hanya kesombongan yang Tuan Lin berikan. Dengan jurus ninja yang dipelajarinya, Bujang membunuh Tuan Lin. Tuan Lin tewas seketika. Sehingga memicu terjadinya pertarungan sengit antara Bujang dan Keluarga Lin.
Setelah kejadian di Grand Lisabon dan membawa prototype pemindai, Bujang langsung terbang menuju Manila menggunakan jet pribadinya untuk menitipkan prototype pemindai itu di tempat yang aman, dan segera kembali ke Ibu Kota. Terdapat beberapa keganjilan yang terjadi di sana.
Ternyata, dibalik semua keanehan itu, ada satu orang penghianat yang merencanakannya. Basyir adalah penghianat Keluarga Tong. Pertempuran tak dapat di elakkan. Namun di detik – detik terakhir, Bujang dan Tauke berhasil pergi meninggalkan markas.
Mereka tiba di atas hamparan rumput, halaman asri sebuah rumah. Tubuh Bujang terkulai, tenaganya sudah habis. Tauke Besar terjatuh di sebelahnya. Sebelum Bujang pingsan, ada seseorang yang memanggilnya dengan panggilan Agam. Nama kecilnya.
Saat Bujang telah siuman, di sebelahnya berdiri Tuanku Imam dan Pawrez serta seorang jenazah, Tauke telah meninggal. Bujang menangis tersedu tanpa air mata, tanpa suara. Tiga lapis benteng pertahanannya, motivasinya, inspirasinya, telah pergi selamanya. Mamak, Bapak dan terakhir Tauke. Itu mencabut banyak hal dari dirinya, dan yang terpenting : keberaniannya. Pagi itu, rasa takut Bujang kembali. Menyelinap dalam hati. Mulai menggerogoti pondasinya.
Tuanku Imam mengajak Bujang berkeliling, menasehatinya, menyadarkannya, sudah saatnya Bujang pulang. Nasehat itu menumbuhkan sesuatu di hatinya, sama seperti ketika Bujang menatap mata merah si babi hutan. Bedanya waktu itu keberanian itu datang dengan gumpal pekat hitam. Pagi ini, keberanian itu datang dengan cahaya terang.
Bujang dan Pawrez pergi ke Ibu Kota untuk melawan Basyir. Bujang mengumpulkan tukang pukul dan letnan yang masih setia pada Tauke, menghubungi White di Hong Kong serta meminta bantuan Si Kembar,Kiko dan Yuki. Mereka akan menyerang Basyir malam ini.
Pertempuran tak terelakkan, Bujang dibantu Si Kembar kualahan melawan Basyir dan para letnannya. White dan teman juga sudah tak mampu lagi melawan para tukang pukul, begitu pula dengan para letnan yang menyerang dari lobi kantor. Saat keadaan semakin terdesak, Bujang merasakan sesuatu yang menakjubkan terjadi. Ia menghilang tepat saat Basyir akan menyerangnya. Bujang mulai memahami apa yang telah dikatakan Guru Bushi. Malam itu, Bujang telah menjadi samurai sejati.
Sayup – sayup terdengar suara adzan, Bujang tersenyum. Semua nasehat yang Tuanku Imam katakan benar. Kali ini Bujang bisa mendengarkannya dengan lega. 

3.      Unsur Intrinsik Novel
·  Tema                 : Sebuah novel yang mengisahkan seorang anak yang tumbuh dewasa dalam dunia hitam. Dan kembali pulang kepada Tuhan.
·  Latar / Seting   : Lereng Bukit Barisan, Kota Provinsi, Ibu Kota, Macau, Hong Kong, Amerika, Manila, Jepang
·  Alur Cerita         : Maju Mundur

4.      Kelebihan Novel
        Secara keseluruhan, gaya bahasanya lugas dan mudah di pahami dan memiliki alur yang menarik. Selain itu novel ini juga memberikan banyak ilmu. Kita seolah bisa merasakan apa yang pelaku lakukan. Perasaan sedih, bahagia, marah, kebencian, menyatu menjadi cerita yang unik. Novel Pulang juga ini memberikan banyak inspirasi bagi pembacanya. Banyak nasehat yang tekandung didalamnya. Sehingga pembaca bisa mengambil banyak pelajaran.

5.      Kekurangan Novel
·         Kualitas kertas baik, namun kertas mudah terlepas dari buku.
·         Terdapat beberapa istilah yang tidak di sertai pengertian. Bagi orang awam, mungkin ada kata yang kurang di mengerti atau meragukan dari segi maknanya. Pada halaman 254 kata “penyeranta”. Harus menggunakan KBBI hingga bisa memahami bahwa maknanya adalah Nomina (kata benda) peranti elektronik yang menerima pesan melalui sinyal elektronik. Lalu pada halaman 291 kata “pandir”. Terdapat beberapa makna dari berbagai daerah. Memiliki arti jika dikaitkan dengan KBBI, namun memiliki makna kalimat yang rancu. Sehingga membingungkan paca pembaca.





2 comments on " RESENSI NOVEL PULANG"

Auto Post Signature