Peninggalan Sejarah Kolonial Inggris di Bengkulu

Tuesday, September 12, 2017
Tak hanya memiliki pantai terpanjang di Indonesia, Bengkulu juga memiliki wisata sejarah yang luar biasa. Selain Rumah Fatmawati dan Rumah Pengasingan Bung Karno sebagai Bapak Proklamator Indonesia, Bengkulu juga menyimpan wisata sejarah yang berumur ratusan tahun lamanya. Siapa sangka di Pesisir Barat Pulau Sumatera ini terdapat Benteng terbesar di Asia Tenggara peninggalan Inggris. Benteng berusia ratusan tahun ini masih berdiri kokoh dan megah dibawah naungan Pemerintah Provinsi Bengkulu bekerjasama dengan Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi dengan wilayah kerja Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Kepulauan Bangka Belitung.

Fort Marlborough atau Benteng Malabero, adalah nama yang disematkan bagi peninggalan Inggris terbesar di Asia Tenggara ini. Nama Marlborough diambil dari nama pahlawan Inggris John Churchill yang bergelar Duke of Marlborough I. Dibangun oleh East India Company pada tahun 1713-1719 di bawah kepemimpinan Joseph Collet. Sebagai benteng pertahanan Inggris, Fort Marlborough dengan luas 44.100 meter persegi ini merupakan benteng Inggris terbesar kedua di wilayah timur setelah Fort St. George di Madras, India. Selain sebagai pertahanan, Fort Marlborough juga difungsikan untuk kepentingan perdagangan oleh Inggris.

Awal mulanya, Salah satu isi kesepakatan antara Kolonial Inggris dengan Raja - raja di Bengkulu adalah memperkenankan Inggris untuk membangun sebuah benteng pertahanan sekaligus kantor perdagangan yang disebut Fort York. Namun karena bangunan benteng yang semakin rapuh, akhirnya Joseph Collet yang menjadi pimpinan Garnizun di Bengkulu pada tahun 1712 menarik kesimpulan bahwa Fort York membutuhkan perbaikan-perbaikan besar dan lokasi benteng itu sebenarnya tidak tepat. Hingga akhirnya dibangunlah Fort Marlborough sebagai pengganti Fort York.


Gambar IG Bengkulu Heritage

Selama 140 tahun berada di Bengkulu, orang-orang Inggris banyak yang meninggal dunia. Kematian orang-orang Inggris tersebut kebanyakan disebabkan oleh serangan penyakit malaria dan disentri, dan tewas dalam konflik-konflik dengan rakyat Bengkulu. Orang-orang Inggris yang meninggal di Bengkulu pada masa itu tercatat sebanyak 709 orang.  Diantaranya adalah Kapten Robert Hamilton, Thomas Parr dan Charles Murray yang makam nya hingga kini masih terawat dan berada di depan pintu masuk Fort Marlborough.
Gambar IG Anang Maulana
Kapten Robert Hamilton adalah seorang Kapten Angkatan Laut Inggris yang mati dibunuh oleh rakyat Bengkulu pada tanggal 15 Desember 1793. Sedangkan Charles Murray merupakan sekertaris dari Thomas Parr yang saat itu merupakan Residen. Pembunuhan terhadap Thomas Parr ini disebabkan oleh akumulasi rasa tidak puas rakyat Bengkulu terhadap kebijaksanaan yang ditempuh oleh penguasa Inggris,  memiliki sifat angkuh dan terlalu mencampuri urusan kepemimpinan tradisional dan adat masyarakat Bengkulu Hingga pada tahun 1808, Inggris membangun sebuah monumen untuk memperingati Thomas Parr. Namun bagi masyarakat Bengkulu kuburan ini dipandang sebagai bukti mereka tak takluk pada kolonialisme, tetapi melawan sekuat tenaga. Kuburan bulek adalah bukti perjuangan rakyat Bengkulu terhadap penjajahan dari bangsa asing. Monumen ini dikenal sebagai Kuburan Bulek oleh masyarakat Bengkulu. Tugu ini berupa tiang-tiang bergaya corinthian dengan sebuah atap yang berbentuk kubah di atasnya. Jenazah Thomas Parr sendiri akhirnya dipindahkan oleh pemerintah Inggris dan disemayamkan di Fort Marlborough.

Benteng Marlborough kemudian beralih ke tangan Hindia Belanda pada tahun 1825-1942, lalu Jepang antara 1942-1945. Pada masa perang kemerdekaan, Benteng Marlborough kemudian menjadi markas Polri, namun di tahun 1949-1950 kembali diduduki Belanda melalui agresi militer, sebelum akhirnya kembali ke tangan Indonesia di tahun 1950. Saat itu Benteng Marlborugh sempat dijadikan markas TNI AD hingga 1977, sebelum akhirnya diserahkan ke Depdikbud untuk proses pemugaran sebagai bangunan cagar budaya.

Megahnya Fort Marlborough juga menyimpan banyak sejarah. Selain 3 makam di depan pintu utama, dibagian dalam benteng juga terdapat banyak meriam yang tersusun rapi, dahulu meriam-meriam inilah yang digunakan sebagai alat pertahanan. Tak hanya itu, ada juga ruang bawah tanah, penjara dan barak militer. Untuk info terbaru, saat ini juga telah ada ruang perpustakaan, galeri pameran dan ruang audio visual yang menceritakan sejarah berdirinya Fort Marlborough di Bengkulu.


Di bagian atas Benteng, kamu juga bisa melihat pemandangan yang laur biasa, kamu bisa melihat pantai Tapak Paderi dengan rumput hijau dengan kendaraan lalu lalang dengan sedikit background bukit barisan dibelakangnya.

Yang tak kalah unik nya Fort Marlborough dari benteng peninggalan inggris lainnya, disini terdapat parit lebar sebagai pembatas benteng sebagai sistem pertahanan dari masyarakat Bengkulu.

Mari mencintai dan memaknai arti sejarah dengan berkunjung ke situs wisata sejarah dan budaya. Jika kita tidak belajar mencintai, maka kapan kita akan saling menghargai warisan sejarah yang kita punya?
Tulisan ini untuk menjawab tantangan #BloggerBengkulu dalam #NulisSerempak dengan Tema #WarisanSejarahBudayaBengkulu bekerjasama dengan Blogger Bengkulu, Media Center Provinsi Bengkulu, dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi

Kamu bisa mengunjungi Media Sosial BPCB Jambi
Facebook  : Cagar Budaya Jambi
Twitter   : @cgarbudayajambi
Instagram : @cagarbudayajambi
12 comments on "Peninggalan Sejarah Kolonial Inggris di Bengkulu"
  1. Fort Marlborough Bengkulu keren y..

    ReplyDelete
  2. Keren kak.. jadi tahu sejarah Benteng Marlborought

    ReplyDelete
  3. Wah, sudah ada perpustakaan, galeri pameran, dan ruang audio visual juga ya? Keren...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas, bnyak yg baru di fort marlborough..

      Delete
  4. ia tuh, paritnya lebar banget. dulunya sewaktu kecil malah aku kira itu kolam lho

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mb, saking lebarnya dan tinggi nya. tp klo di jadiin kolam, keren kayak ny.. hehe

      Delete
  5. Menarik banget ya...
    sejarah seringkali meninggalkan sesuatu yang menarik dan jadi pelajaran untuk generasi berikutnya.
    thank dan salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga bisa menjadi warisan budaya sampai nanti y mb..
      salam kenal juga mb ina :)

      Delete
  6. Harus menjelajahi lebih dalam lagi mengenai sejarah benteng marlborough

    ReplyDelete

Auto Post Signature