Aku Dalam Kerinduan

Wednesday, January 27, 2016

Saat mentari pagi dengan angkuhnya menyapa
Dengan semua pancaran keindahan ia bersolek
Dengan kehangatan yang terpancar
Aku menanti disini dalam kerinduan

Saat mentari mulai beranjak keperaduan
Pancaran kehangatan mulai meredup
Tergantikan oleh gelap dan dinginnya malam
Ditemani sinar bulan dan kerlip bintang
Aku masih menanti disini dalam kerinduan

Kerinduan yang tak pernah pudar
Bermunajah dan menengadah pada-Nya dalam doa
Sebagai pengobat rinduku padamu
Apakah kerinduanku akan segera terobati?

Aku dalam penantian
Mencoba bersabar akan semua jalan
Mencoba bertahan dalam setiap cobaan
Hingga nanti
Saat tiba waktu akhir penantian ini
Saat raga ini tak mampu lagi berjuang
Saat hidup ini tak lagi berarti

Akan tiba waktu penantianku untuk bertemu Rasulku


Bengkulu, 23 Desember 2015
Antalogi Puisi Penantian Penerbit Kekata Publisher

Masih Bersama Hujan


Kau Tahu,
Senja ini, saat rinai hujan itu datang
Ada sekelebat bayang kebersamaan kita
Tawa, canda dan senyummu seolah masih terlihat nyata

Namun, senja ini, saat hujan semakin ganas berjatuhan ke bumi
Saat itulah aku sadar, masa itu telah berlalu
Kita tak lagi bersama
Kita berada di waktu dan masa berbeda

Hujan itulah akhir kebersamaan kita
Rintih pedih yang kurasakan
Aku tetap berjuang
Aku harus bertahan
Karena waktu tak akan pernah berhenti berputar karena kesedihan
Aku harus melanjutkan hidupku

Ibu, bahagiakah engkau di sana
Maafkan aku yang selama ini mencintaimu dalam diam
Kebersamaan kita mungkin tak lama
Tapi cinta ini akan selalu ku jaga

Hingga kita bertemu di Jannah Nya

Bengkulu, 22 Desember 2015
Antalogi Puisi Hujan Penerbit Hikari Publisher

Antara Hidup dan Mati



Apakah engkau memiliki impian?
Sesuatu yang sangat kau impikan
Sesuatu yang tak bisa engkau lupakan
Walau hanya sedetik

Pernahkah engkau berharap impian mu menjadi nyata?
Hingga impian itu memasuki mimpimu
Bahkan jantungmu berhenti berdetak
Setiap kali engkau mengingatnya

Bila engkau merasakannya
Selamat...
Selamat karena engkau masih hidup
Hidup bersama impianmu
Bahkan jika impianu tak terwujud
Impian itu akan tetap dihatimu
Ia akan melekat disana
Berubah menjadi kenangan indah
Saat engaku ikhlas bahwa usahamu tak pernah sia – sia

Bila kau merasakannya
Engkau harus percaya
Impian itu akan tetap terjadi
Jika tidak denganmu
Maka impian itu akan engkau wariskan suatu saat nanti

Tak perlu ada penyesalan
Akan lebih menyakitkan bila engkau tidak memiliki impian
Dan saat itu terjadi
Mungkin engkau hanyalah seonggok daging bernama yang tak berguna

Karena impianlah kita hidup
Karena impianlah kita ada
Hingga mata tertutup
Saat pilihan itu ada, kita diantara hidup dan mati




Bengkulu, 05 Januari 2016
Antalogi Puisi Dialog Dini Hari Kala Itu Penerbit Stepa Pustaka

Auto Post Signature